Tryout.id
Adanya Tuduhan Keliru Terhadap Capres 01 Anies Baswedan Terkait Politik Identitas

Adanya Tuduhan Keliru Terhadap Capres 01 Anies Baswedan Terkait Politik Identitas

5 Feb 2024
293x

Capres 01 Anies Baswedan menjadi sorotan publik karena dugaan penggunaan politik identitas agama pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta tahun 2017. Beberapa pihak mengaitkan Anies Baswedan dengan politik identitas saat memenangkan pilkada tersebut, mengundang kontroversi dan perdebatan. Fokus utama artikel ini adalah menggali, apakah benar Anies Baswedan menggunakan politik identitas dalam kampanye Pilkada DKI 2017?

Tuduhan Keliru

Menurut Eep Saefulloh Fatah, pendiri dan CEO PolMark Indonesia, dalam wawancara di Kanal YouTube Info A1 – Kumparan, Episode 32, tuduhan terhadap Anies Baswedan terkait politik identitas adalah keliru. Eep Saefulloh Fatah membantah pandangan tersebut, menyebutnya sebagai kesalahpahaman. Sebagai informasi, Eep Saefulloh Fatah dianggap sebagai tokoh di balik politik identitas Pilkada DKI, oleh sebagian orang.

Pada putaran kedua Pilkada DKI 2017, kampanye ayat dan mayat menjadi perhatian publik. Oleh karena itu, Eep Saefulloh segera pergi ke Jakarta Utara untuk bertemu dengan beberapa orang pimpinan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), tetapi diusir pulang. Meskipun demikian, upaya Eep Saefulloh berhasil ketika mendatangi KH Muhyidin Ishaq (saat ini menjabat Rais Syuriyah NU DKI Jakarta), yang saat itu mendukung pasangan Agus Silvi.

Awalnya, di sekitar pesantren Miftahul Ulum milik KH Muhyidin Ishaq mengalami kekalahan yang jarang terjadi pada putaran pertama. Bahkan dengan gabungan suara Anies dan Agus, masih 15% di bawah suara Ahok sendirian. Dalam ketidakpuasan, KH Muhyidin Ishaq memasang spanduk kontroversial bertuliskan “Pendukung Ahok haram dikubur di sini.” Perlu diketahui bahwa kakek KH Muhyidin Ishaq dahulu merupakan salah satu tuan tanah di Jakarta dan punya tanah wakaf untuk makam lebih dari 2 hektar.

Dengan adanya pemasangan spanduk kontroversial tersebut, lantas Eep Saefulloh Fatah melakukan pendekatan kepada KH Muhyidin Ishaq dengan dua tujuan. Pertama, menjelaskan bahwa kampanye itu akan merugikan Anies karena membawa dampak negatif. Kenapa? Karena pendukung Anis saja tidak mungkin simpati dengan seperti begitu. Sehingga jangankan pendukung Ahok akan pindah, pendukung Agus juga akan pindah, pendukung Anies saja bisa pergi. Kedua, Kang Eep menjelaskan bahwa  tokoh-tokoh seperti Komaruddin Hidayat dan Rektor UIN Azyumardi Azra juga mengecam keras.

KH Muhyidin Ishaq akhirnya berdiskusi dan meminta bagaimana cara Anies untuk menang. Kalau bisa diyakinkan, KH Muhyidin Ishaq akan menurunkan spanduk tersebut. Sebelum Eep Saefulloh Fatah pulang, spanduk tersebut sudah terlipat di depan pintu, menunjukkan kesediaan KH Muhyidin Ishaq untuk merenung dan membersihkan kontroversi yang terjadi. Bahkan Pak Kiai berkeliling di masjid dan mushola di sekitarnya, untuk membersihkan spanduk. Memang ada satu spanduk yang belum diturunkan karena kebetulan yayasan itu dikelola oleh orang salah satu partai Islam. Tapi akhirnya turun juga

Menariknya, Eep Saefulloh Fatah menilai kasus Pilkada DKI 2017 sebagai unik karena adanya pancingan dari pidato Ahok di Pulau Seribu. Pidato tersebut memicu kemarahan nasional karena melabrak identitas umat Islam. Jadi juru kampanye terbaik untuk Anies – Sandi pada waktu itu justru dari Ahok atau Basuki Cahaya Purnama.

Politik Identitas Suatu Keterkaitan yang Tidak Terhindarkan

Capres dari Koalisi Perubahan 01, Anies Baswedan, menyatakan bahwa politik identitas tidak dapat dihindari karena setiap calon yang bersaing selalu membawa identitas yang melekat pada dirinya. Menurut Anies, politik identitas menjadi tidak terhindarkan, seperti ketika calon yang bersaing memiliki perbedaan latar belakang gender.

Anies Baswedan menjelaskan bahwa ketika calon memiliki identitas yang berbeda, baik berdasarkan gender, suku, atau agama, identitas tersebut akan terus terlihat dalam dinamika politik. Dalam kasus Pilkada DKI 2017, identitas agama menjadi sorotan karena perbedaan latar belakang agama antara pasangan calon yang bersaing.

Mengenai asosiasi dirinya dengan isu politik identitas, Anies berkeinginan agar semua pihak menilai kinerjanya selama menjabat sebagai pemimpin DKI Jakarta. Ia meyakini bahwa fokus utamanya terletak pada tiga bidang, yaitu biaya hidup, lapangan pekerjaan, serta kesehatan dan pendidikan. Anies menegaskan bahwa isu politik identitas yang muncul pada Pilkada 2017 bukan berasal dari calon gubernur dan wakil gubernur, melainkan tim pendukung masing-masing kandidat.

Menurut pandangan Anies, penting bagi setiap calon yang bersaing dalam pemilu untuk menunjukkan kedewasaan setelah pemilu selesai. Dia menekankan pentingnya merangkul pihak yang kalah, sekaligus mengakui kekalahan. Anies menyatakan bahwa ia tidak keberatan jika ada yang tidak menyukai dirinya. Dia menegaskan sikap terbuka untuk berdiskusi dan bersama-sama membangun gerakan yang kontributif demi membawa perubahan.

Dengan pernyataan ini, Anies Baswedan menggarisbawahi kompleksitas politik identitas dalam konteks pemilihan umum. Pandangannya mencerminkan pengakuan bahwa identitas, apakah berbasis gender, suku, atau agama, memiliki dampak signifikan dalam dinamika politik dan perlu diakui serta dielaborasi dengan kedewasaan setelah pemilu berakhir.

Penutup

Dalam pandangan Eep Saefulloh Fatah, Anies Baswedan tidak menggunakan politik identitas sebagai strategi kampanye dalam Pilkada DKI 2017. Meskipun demikian, peristiwa di lapangan menunjukkan kompleksitas dinamika politik dan peran identitas agama dalam pengambilan keputusan pemilih.

Untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2024 ini, jelas politik identitas berbasis agama tidak akan melekat di Anies Baswedan karena semua paslon memiliki latar belakang agama yang sama. Kesimpulan dari peristiwa tersebut memberikan pemahaman lebih dalam terhadap peran politik identitas dalam konteks pemilu dan dampaknya terhadap hasil akhir suatu kontestasi politik.

Baca Juga:
Buzzer

Mengukur Keberhasilan Kampanye Media Sosial dengan Bantuan Buzzer

Politik      

13 Mei 2025 | 166


Di era digital yang serba cepat ini, kampanye media sosial menjadi salah satu strategi utama dalam pemasaran dan komunikasi. Salah satu elemen penting dalam kampanye media sosial adalah ...

Emporio Architect Wujudkan Impian Miliki Rumah Bernuansa Villa

Emporio Architect Wujudkan Impian Miliki Rumah Bernuansa Villa

Tips      

12 Agu 2021 | 1966


Setiap orang bermimpi untuk memiliki rumah yang menarik dan nyaman untuk ditinggali. Apalagi jika rumah tersebut memiliki desain yang nyaman untuk ditinggali layaknya rumah villa. Rumah ...

Anies Baswedan di Antara Gagasan, Integritas, dan Jalan Perubahan

Anies Baswedan di Antara Gagasan, Integritas, dan Jalan Perubahan

Politik      

3 Okt 2025 | 109


Anies Rasyid Baswedan bukan sekadar figur politik biasa. Ia adalah sosok yang hadir membawa semangat perubahan melalui gagasan-gagasan besar dan konsistensi pada nilai-nilai integritas. ...

Cara Memanfaatkan Minyak Kelapa Murni untuk Buah Hati

Cara Memanfaatkan Minyak Kelapa Murni untuk Buah Hati

Herbal      

6 Feb 2020 | 2264


Bukanlah info baru kalau minyak kelapa murni mempunyai banyak khasiat. Minyak kelapa murni mulai disukai banyak orang akhir-akhir ini sebab disamping aman dan sehat dimakan oleh tubuh, ia ...

Mata Lelah

Sering Pegang Gadget tapi Mata Cepat Lelah? Sudahkah Kamu Menerapkan Aturan 20-20-20 dengan Benar

Tips      

27 Des 2025 | 99


Di era layar menyala hampir 24 jam, mata jadi salah satu organ yang paling sering “dipaksa kerja lembur” tanpa disadari. Dari bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, aktivitas ...

Samsung Galaxy S20 TE, Smartphone Tangguh Khusus Militer

Samsung Galaxy S20 TE, Smartphone Tangguh Khusus Militer

Gadget      

25 Mei 2020 | 2633


Ponsel pintar yang dapat mengakomodasi keperluan militer memang bukan sebarang. Oleh sebab itu, samsung memproduksi ponsel pintar galaxy s20 te secara spesifik buat penuhi standar ...

Copyright © Tolonglah.com 2018 - All rights reserved